SULUT, TS – Ruang Rapat Paripurna DPRD Sulawesi Utara mendadak riuh pada Selasa (24/2/2026). Penetapan Ranperda Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) yang seharusnya berjalan formal justru diwarnai aksi protes keras dari kelompok yang menamakan diri Koalisi Masyarakat Sipil.
Namun, tensi semakin tinggi saat Ketua Aliansi Masyarakat Penambang Sulut, Julius Jems Tuuk, angkat bicara. Bukannya mendukung aksi tersebut, Jems justru melontarkan tudingan pedas. Ia menduga gerakan penolakan tersebut bukanlah aspirasi murni, melainkan “pesanan” kelompok pemodal besar.
Jems secara gamblang mencium adanya skenario terselubung untuk membungkam kepentingan penambang rakyat yang kini mulai mendapat tempat dalam draf RTRW terbaru.
“Saya menduga, masyarakat yang menolak RTRW ini dibiayai oleh kelompok oligarki di Sulawesi Utara!” tegas Jems dengan nada tinggi saat ditemui di gedung cengkih.
Ia menilai ada standar ganda yang dimainkan para aktivis. Jems mempertanyakan mengapa para demonstran justru bungkam terhadap kerusakan lingkungan yang diduga dilakukan oleh perusahaan besar seperti PT MSM/TTN, namun sangat vokal ketika hak penambang rakyat diakomodasi.
Dalam argumennya, Jems memaparkan sejumlah fakta lapangan yang luput dari sorotan pendemo, mulai dari kematian puluhan hewan ternak hingga kerusakan rumah warga di sekitar area tambang besar yang notabene bukan tambang rakyat. Ia menyebut manajemen perusahaan telah merugikan daerah dan seharusnya tidak diberikan ruang lagi untuk menambang.
Soal RTRW bagi Jems, kebijakan di bawah kepemimpinan Gubernur Yulius Selvanus saat ini justru sedang berupaya mengimplementasikan Sila Kelima Pancasila dengan memberikan legalitas pada wilayah tambang rakyat.
Ia merasa ironis ketika upaya pemerintah menyejahterakan rakyat kecil melalui regulasi justru dihadang oleh gelombang protes. Di akhir pernyataannya, Jems memberikan tantangan terbuka bagi pihak-pihak yang menolak RTRW.
“Tidak usah hanya berteriak di lembaga ini. Kalau memang berani, datang langsung ke lokasi penambang rakyat dan katakan keberatan kalian di sana. Itu baru namanya laki-laki!” pungkasnya. (Falen)







