SULUT, TS — Festival Literasi Sulawesi Utara (Sulut) 2026 resmi ditutup di Museum Negeri Sulawesi Utara. Mengusung tema “Merawat Kearifan dan Menciptakan Narasi untuk Masa Depan Peradaban”, ajang ini menegaskan pentingnya pembangunan kualitas SDM di samping pembangunan fisik dan ekonomi.
Gubernur Sulawesi Utara, Mayjen TNI (Purn) Yulius Selvanus, menyatakan bahwa literasi memiliki makna luas melebihi sekadar kemampuan membaca dan menulis.
Menurutnya, literasi adalah sarana memahami realitas, berpikir kritis, memilah informasi, serta membentengi sejarah dan kearifan lokal di tengah pesatnya perkembangan teknologi.
“Peradaban yang maju dan berkeadaban dibangun di atas fondasi literasi yang kokoh,” ujar Yulius.
Pemerintah Provinsi Sulut memandang budaya literasi sebagai gerakan bersama yang melibatkan sekolah, perguruan tinggi, keluarga, komunitas, hingga generasi muda.
Melalui festival ini, masyarakat diberikan ruang untuk berekspresi, berkolaborasi, dan melahirkan karya produktif tanpa kehilangan jati diri budaya daerah.
Dalam kesempatan tersebut, Gubernur Yulius mengapresiasi Pengurus Putra Putri Literasi Sulawesi Utara (PPLSU), Perpustakaan Nasional, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Daerah Provinsi Sulut, serta seluruh pihak yang menyukseskan acara.
Penutupan festival ini diharapkan bukan menjadi akhir, melainkan awal keberlanjutan gerakan literasi di berbagai ruang publik.
Pemprov Sulut berkomitmen terus mendukung kegiatan edukatif guna mencetak generasi yang berpengetahuan, berkarakter, dan berdaya saing global demi masa depan daerah yang maju dan berkelanjutan. (Falen)











